Minggu, 20 Oktober 2013

Semangat Mereka

Masuk ke dalam lingkungan yang berbeda dari kita itu suatu pengalaman yang sangat berarti, mungkin aku merasa normal jika berkumpul dengan sesama orang normal, akan tetapi aku akan merasa jauh berbeda jika berkumpul dengan orang yang kita anggap berbeda lalu apakah masih pantas aku mengatakan aku yang normal tatkala aku berkumpul dengan penyandang disabilitas? tidak ungkapan disabilitas mungkin kurang pantas, sebut saja divabel, mereka merasa berbeda jika berkumpul dengan orang-orang normal, tapi aku merasakan menjadi satu-satunya orang yang tidak normal ketika aku berkumpul dengan mereka, itu sebabnya dikatakan divabel, dan aku bahkan orang normal lainnya akan merasa menjadi divabel ketika kita berkumpul dengan mereka. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. karena aku satu-satunya yang bisa melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas, dan berbicara dengan jelas.

aku salut dengan mereka, semangat mereka, kepercayaan diri mereka, dan perjuangan mereka dalam hidup ini, terkadang aku merasa malu, aku yang diberikan pendengaran baik, dapat melihat dengan jelas, bahkan tidak kesulitan dalam berbicara terkadang mengeluh, merasa jenuh dan capek dengan kehidupan yang aku jalani, padahal disaat aku merasa jenuh dan bosan aku dengan leluasa mendengarkan musik yang aku inginkan untuk menghilangkan penat, menonton film ataupun acara tv yang aku inginkan, bahkan ketika hati ini menyimpan bermacam-macam uneg-uneg aku dengan leluasa dapat mengungkapkannya dengan mudah. betapa tidak bersyukurnya diriku.
ku bayangkan mereka tunarungu, tidak dapat mendengarkan musik, hanya melihat gambar bergerak jika melihat film, tapi memiliki semangat yang besar untuk trus kuliah, terus berjuang dan tidak menyerah dengan kekurangan yang mereka miliki, walaupun keterbatasan menghambat mereka.
ku bayangkan mereka yang tunanetra, hanya bisa melihat gelap, walaupun beberapa dari merka masih bisa menagkap cahaya, tapi hanya sekedar cahaya tidak lebih, mereka tidak bisa melihat indahnya berbagai macam warna, meihat wajah orang-orang disekitar kita, mereka hanya bisa meraba dan menerka-nerka seperti apa orang itu tanpa tahu kepastian yang jelas, tapi mereka tetap terus kuliah, walaupun hanya sekear mendengarkan penjelasan itu sudah cukup, dan mereka bisa melalui itu semua
untuk mereka aku memberikan apresiasi yang besar dan setinggi-tingginya, aku salut dan termotivasi dengan mereka.
sekarang keinginan aku bertambah
aku ingin kelak jika sudah menjadi seorang pustakawan aku ingin membuat perpustakaan untuk penyandang divabel agar mereka juga dapat merasakan dan mendapatkan ilmu dan informasi