Cinta Menghasilkan Penyesalan
Kisah putri Nyale,
kisah ini berasal dari daerah Nusa Tenggara Barat, di kisahkan hiduplah seorang
putri yang cantik jelita, kecantikannya sangat mempesona, sehingga membuat dua
pangeran yang berwajah tampan jatuh hati kepada putri Nyale, bahkan kedua
pangeran ini rela bersaing untuk mendapatkan putri Nyale. Akan tetapi, putri
Nyale tidak mau ada yang tersakiti hanya untuk memperebutkan dirinya, untuk itu
putri Nyale memilih untuk mengakhiri hidupnya dari pada putri Nyale harus
memilih salah satu dari mereka.
Nah, kisah aku itu
hampir mirip sama kisah putri Nyale, di garis bawahi hampir mirip bukan mirip,
kenapa aku bilang hampir mirip karena di zaman modern seperti sekarang ini gak
mungkinlah ada cewek yang di rebutin sama dua orang cowok ganteng yang terus
memilih mengakhiri hidupnya, yang ada cewek zaman sekarang itu malah seneng
kalau di perebutkan sama dua cowok ganteng, karena itu berarti ceweknya itu
termasuk salah satu cewek tercantik dan popular, siapa coba yang gak bangga.
Emang sih aku gak secantik putri Nyale, tapi banyak orang yang memuji aku
cantik, walaupun aku ngerasa biasa-biasa aja. Kisahku dimulai saat aku selesai
makan siang bersama sahabatku Merry, biasanya kami ngak pernah makan di warung
depan kampus, tapi hari itu aku ingin sekalli mencoba makan makanan di warung
depan kampus, dan mungkin udah rezeki dari yang di atas saat ingin menyebarang
jalan untuk balik ke kampus, aku bertemu dengan pangeran tampan itu, karena
jalanan sangat ramai dia membantu kami untuk menyebarang jalan entah karena
kebetulan dia juga akan menyebrang jalan atau aku yang merasa ke GR-an, tapi
semenjak hari itu aku langsung jatuh cinta, cinta pandangan pertama.
Cuaca sangat panas hari
ini, biasanya matahari yang bersembunyi di balik awan kali ini sedang ingin
memperlihatkan dirinya,sehingga membuat semua orang yang berada di bawahnya
mengeluh tiada henti, termasuk sahabatku Merry yang tidak tahan dengan suasana
yang panas. “Haduh nih dosen kapan kelarnya sih nge?” Keluh Merry sambil
tangannya sibuk mengipasi dirinya. “Bentar lagi, kurang 5 menit, eh ntar makan
yuk, laper nih aku” Ajak ku pada Merry yang langsung di iya kan dengan
mengangguk beberapa kali. 5 menit berlalu, akhirnya mata kuliah yang
membosankan itu selesai juga, “Kita mau makan dimana nih Nge?” Tanya Merry.
“gimana kalau di warung depan kampus?” Usulku pada Merry. “ Apa? Panas-panas
gini kamu ngajakin makan di depan kampus, ya ampun Inge neraka tuh lagi bocor
sekarang?” protes Merry tidak setuju. “Ayolah Mer, mau yah” rayuku. “ Kenapa
ngak di kantin kampus aja sih? Kamu kan juga cewek yang anti panas, tumben nih,
hayo ada apa?” Tanya Merry curiga. “ Hahaha. Kamu emang tau aja deh Mer, iya
kamu pasti tau lah, siapa tau aja ketemu ma cowok yang kemari” jawabku tersipu.
“Udah ah ayok cepetan jalan” tambahku lagi sambil bergegas memasukkan buku.dan
beranjak pergi “ Kamu serius suka sama cowok yang kemarin Nge? Terus Galuh mau
kamu gimanain?” Tanya Merry sambil mengikuti langkahku. “ Ya gak gimana-giman,
lagian aku sama Galuh itu kan gak ada apa-apa, cuman deket aja” belum selesai
aku melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba cowok yang mempunyai postur tubuh tinggi
itu sudah berdiri di depan pintu yang membuat aku dan Merry menghentikan
langkah. “ Wah panjang umur nih anak” kata Merry. “ Hayo pasti abis ngomongin
aku ya?” Tanya Galuh sambil tersenyum. “Ada apa luh?” tanyaku tak menjawab
pertanyaannya. “ Ngak cuman mau mastiin aja ntar malem kita jadi kan nonton?”.
“ Emm gimana ya, liat ntar aja deh, ntar aku kabarin lagi” jawabku cuek.”Ya
udah, aku duluan, yuk Mer” tambahku sambil berlalu meninggalkan Galuh.
Seperti biasa warung di
depan kampus ini sangat ramai, karena harganya yang murah dan makananya yang
enak membuat warung ini selalu di sesaki oleh penghuni kampus yang ingin
berhemat, untung aja aku dan Merry masih kebagian tempat. “ Kamu mau makan apa?
Biar sekalian aku yang mesenin?” “aku mesen soto ayam sama es jeruk deh” jawab
Merry yang masih memegang kipas di tangannya. “Ya udah tunggu bentar”. Karena di warung ini tidak
ada pelayan yang mengantarkan makanan jadi pembeli harus mengambil makanannya
sendiri, sambil menunggu aku mengecek HP mungkin saja ada sms, tepat saat itu cowok
yang kemarin juga sedang memesan makanan. Hari ini bener-bener hari
keberuntungan aku, ini kesempatan yang bagus banget batinku dalam hati, jadi
aku memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol. “ Eh kamu kan yang kemarin ngebantuin aku
nyebrang kan?” tanyaku ramah sambil memperlihatkan senyuman terbaikku. “ Aku
belum sempet ngucapin terima kasih kemarin” tambah ku lagi. “ Oh iya,
sama-sama, kebetulan kemarin aku juga mau nyebrang jalan juga kok” jawabnya.
‘tuh kan akunya aja yang ke GR-an’ batin ku dalam hati. “ Ow ya, aku Inge,”
kataku memperkenalkan diri.” Aku Andre” jawabnya, dan percakapan pun terus
berlanjut sampai kami sepakat untuk bertukar nomer HP bertepatan dengan
datangnya makanan pesanan kami. Kami pun berpamitan dan kembali ke meja
masing-masing.
Semenjak pertemuan
kami, aku semakin sering berhubungan dengan dia, bahkan beberapa kali kami
keluar bersama, Andre juga sempat mengatakan kalau dia sayang sama aku tapi aku
belum memberinya jawaban yang pasti. Kami berdua semakin sering jalan-jalan
atau hanya sekedar nonton, Galuh yang dari awal dekat denganku sekarang mulai
aku jauhi, sampai suatu hari selesai aku nonton film bersama Andre aku bertemu
dengan Galuh dan teman-temannya. Galuh langsung menghampiriku dan Andre yang
baru saja keluar dari bioskop. “ Berani-beraninya kamu ngedeketin
Inge” bentak Galuh tanpa basa-basi. “Galuh” pekikku terkejut. “ Kamu tuh ngak
ada bosennya ya nyarik maslah sama aku?” tanya Galuh kepada Andre. Yang ditanya
hanya diam saja, membuat Galuh tambah geram, “Mulai sekarang kamu jangan
coba-coba ngedeketin Inge lagi” bentaknya dengan geram.”Emang kamu siapanya
dia, hah?” Tanya Andre dengan tenang dan santainya, aku sedikit kagum Andre
tidak terpancing emosinya.” Dia cewek aku, ngerti!” jawab Galuh yang spontan membuat
aku menoleh ke arahnya, belum sempat aku membuka mulut, Galuh langsung menarik
tanganku dan menyeret aku pergi dengan kasar, meningalkan Andre yang terlihat
sama kagetnya dengan ku. Aku meronta sepanjang perjalan menuju sepeda motornya.
“Galuh lepasin aku” teriakku berusaha melepaskan gengaman tangan Galuh, tapi
Galuh tidak mengubrisnya, bahunya terlihat menegang, kelihatan sekali kalau dia
sedang marah. Galuh mengantarkan aku pulang, sepanjang perjalanan dia tidak
mengeluarkan sepatah kata apapun. Sesampainya di depan rumah Galuh baru mau
bicara “ Inge kamu bener-bener ngecewain aku, kamu tau kan kalau aku sayang
sama kamu, jadi ini yang ngebuat kamu ngejauh dari aku” katanya, raut mukanya
sudah tidak menegang lagi, sepertinya dia sudah bisa mengendalikan amarahnya
tapi jelas sekali terlihat ekspresi kecewa yang mendalam, ini membuat aku
sedikit merasa bersalah kepadanya. “ Tapi kali ini aku gak bakalan mengalah
sama cowok itu lagi.” Tambahnya. “ Maksud kamu apa?” Tanyaku ngak mengerti. “ Udah
malem, cepet masuk terus istirahat” katanya tidak menjawab pertanyaanku, Galuh menghidupkan
motornya dan berlalu begitu saja, membiarkan aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya
terjadi.
Sesampainya di kamar
aku langsung menelpon Andre. Dan menjelaskan semuanya, kalau aku dan Galuh
hanya sekedar teman, untungnya Andre mengerti, karena dia sudah mengenal sifat
Galuh yang seperti itu, yang ternyata mereka dulunya bersahabat, tapi karena
masalah cewek mereka menjadi musuhan, dan hal yang sama sekarnag terulang
kembali, kata Andre sebelum mengakhiri perbincangan kita.
Aku tidak bisa tidur
nyenyak, aku memikirkan semua yang terjadi, tapi jika harus memilih aku lebih
memilih Andre daripada Galuh, karena aku lebih merasa nyaman bersama Andre, dan
aku meutuskan untuk mengatakan hal itu kepada mereka berdua besok.
Besoknya kami bertiga
bertemu, terasa sekali suasana sangat tidak nyaman, maka aku memutuskan untuk
cepat memulai dan mengalhirinya. “ Aku harap kalian menerima keputusanku”
kataku memulai pembicaraan, aku menarik nafas panjang “Aku udah ngambil
keputusan, kalau aku lebih milih Andre, aku bener-bener minta maaf sama kamu
luh, aku harap kamu ngerti”. “ Bruk!” Galuh memukul meja dengan keras. “ Ngak
bisa gitu Nge, kamu inget kan kata-kataku tadi malem” katanya dengan nada
tinggi,” Ini gak adil, yang deket sama kamu duluan kan aku” tambahnya lagi
masih dengan nada yang tinggi. “ Aku tau, tapi ini udah keputusan aku, aku harap
kamu ngerti”. “ Aku gak bisa terima gitu aja” bantah Galuh. “ Gimana kalau kita
balapan motor, seperti dulu, yang menang boleh ngedeketin Inge yang kalah harus
ngejauhin dia” tantang galuh kepada Andre.” Kamu yakin kali ini bisa menang”
jawab Andre sambil tersenyum meremehkan. “ Sialan, dulu aku mungkin kalah sama
kamu, tapi sekarang aku gak bakalan kalah” jawab Galuh yakin. Aku masih terdiam
mendengar percakapan mereka berdua, itu artinya aku bakalan di buat bahan
taruhan, apa-apaan mereka, sebelum aku angkat bicara, Andre memulai duluan. “ Oke
kalau gitu, nanti malam aku tunggu di tempat biasa” jawab Andre menerima
tantangan Galuh, aku tidak percaya mendengar perkataan Andre, aku menatap dua
cowok itu bergantian, “ Kalian itu apa-apaan sih” bentakku tak setuju. “ Kalian
pikir aku barang apa di buat taruhan” bentakku lagi semakin marah. “ Maaf beib,
tapi itu cara kami menyelesaikan maslah” jawab Galuh dengan santainya. Aku tak
percaya dengan apa yang aku dengar, aku bangkit dari tempat duduk dan berlari
meninggalkan mereka berdua, aku marah, sedih kecewa, campur aduk menjadi satu,
aku berlari sampai tak terasa air mata ini mengalir membasahi pipiku.
Sesampainya di rumah
aku menagis sejadinya, meluapkan rasa kecewa dan marahku dengan memuluk-mukul
bantal, sampai akhirnya aku tertidur,. Aku terbangun, kulihat langit sudah
berganti warna menjadi gelap dan bertaburan cahaya, kulihat jam menunjukkan
pukul 8 malam, aku berbaring terlentang, memikirkan apakah mereka berdua
benar-benar melakukan tindakan konyol yang mereka rencanakan tadi siang. Aku
sengaja mematikan ponselku, agar mereka berdua sadar kalau aku tidak suka
dengan ide konyol mereka, melakukan hal berbahaya hanya untuk seorang cewek,
lalu aku terdiam, seandainya aku tidak serakah dekat dengan dua cowok sekaligus
hal ini tidak akan terjadi. Aku merasa bersalah, aku bangkit dan pergi ke kamar
mandi untuk mencuci muka, kemudian aku menelfon Merry dan mengajaknya untuk
melihat mereka berdua balapan. Aku berniat untuk menghentikan mereka berdua,
semoga saja belum terlambat batinku dalam hati.
Sesampainya disana
ternyata mereka berdua serius dengan perkataan mereka, aku melihat Andre dan
Galuh sudah bersiap di atas motor merka masing-masing, terlambat pikirku untuk
menghentikan mereka berdua. Balapan pun di mulai, awlany mereka seri, tidak
lama Andre menyalip dan memimpin, di saat putaran terakhir, Galuh mempercepat
laju motornya, dan kejadian itu berlangsung sangat cepat, Galuh menabrakan
sepedanya ke sepada Andre, membuat Andre kehilangan keseimbangan dan terjatuh,
sepedamotornya menyeret tubuh Andre dan membentur trotoar. Aku memekik keras
dan langsung berlari menuju Andre. Aku lihat tubuh Anre yang terkapar dengan
bersimpuh darah, aku berlutut memeluk Andre sambil berteriak minta tolong, air
mata membasahi kedua pipiku mengalir deras, “Ndre, bertahanlah, aku mohon”
pintaku sambil terisak. Tanganya yang merah penuh darah memegang pipiku “Maaf
ya aku kalah” katanya lemah “ Tapi bukan berarti aku gak sayang sama kamu”
tambahnya. “Bodoh, kamu jangan banyak bicara dulu” perintahku. “Inge, aku
sayang kamu” tambahnya lagi, dan kemudian Andre terdiam, dadanya sudah tidak
naik turun lagi. Aku menguncang-guncangkan tubuhnya dan memanggilnya, tapi
tidak ada respon, Andre sudah tidak bernafas lagi. Air mata ini semakin deras
mengalir saat aku menyadiri jiwa Andre sudah tidak bersamaku lagi.
Setelah kejadian naas
itu, Andre dimakamkan, aku pergi mengantarkan jasadnya ke peristirahatan
terakhirnya, dan Galuh di masukan ke dalam penjara karena dengan sengaja
menabrakan sepeda motornya sehingga membuat Andre meninggal. Aku berfikir
mungkinkah seharusnya dari awal aku mengambil keputusan seperti putri Nyale,
yang mengakhiri hidupnya agar tidak ada yang tersakiti? Aku baru menyadari apa
yang aku anggap bodoh saat pertama kali mendengar kisah putri Nyale yang
mengakhiri hidupnya hanya untuk menghindari dua orang tersakiti, sekarang aku
baru menyadari maksud dari keputusan yang sudah di ambil oleh putri Nyale, tapi
apa gunanya menyadarinya sekarang semua sudah terlambat, hanya penyesalan yang
aku rasakan sekarang, kehilangan orang yang aku cintai untuk selamanya.
---------THE
END------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar