Apa yang terjadi seandainya serangkaian angka-angka itu mendadak ‘Hidup’ dan menggiring masuk ke dalam ruang dan waktu yang bergulir tak menentu akibat sebuah Virtual Reality Game? Berbagai peristiwa bersejarah kembali menyeruak hadir. Seakan mengingatkan bahwa masa lalu sebenarnya tidak pernah pergi jauh. Kemarin, hari ini, esok hari, semua memang akan menjadi sejarah. Namun bukan berarti sejarah yang telah lewat akan dilupakan begitu saja. As a wise man say: “Jangan pernah melupakan sejarah!”. Dan dari sinilah kisah ini bermula…
‘The DDC Game’ mungkin bagi orang awam yang tidak bersekolah di jurusan Ilmu Perpustakaan ataupun bukan seorang pustakawan akan menganggap DDC adalah nama sebuah game. Tapi saya yakin bagi seorang mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan mendengar kata DDC maka akan ada lenguhan napas panjang yang terdengar, bagaimana tidak jika bertemu DDC itu artinya mata kuliah Klasifikasi. Klasifakasi seperti yang kita tahu adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standart yang di tetapkan. Nah di perpustakaan untuk mengklasifikasinya menggunakan sistem yang di sebut DDC. Jadi sebelumnya buku di taruh berjajar rapi di rak oleh pustakawan, buku-buku tersebut terlebih dahulu di klasifikasi sesuai dengan bidang pengelompokannya. Tapi tidak semudah itu mengelompokkannya. Butuh waktu yang cukup panjang dan ekstra, jadi kalau kalian pernah melihat sederet angka yang berada di bawah punggung buku itu lah yang disebut dengan nomor klasifikasi, dimana untuk mendapatkan nomor-nomor itu harus menggunakan 4 buku DDC yang subhanallah tebalnya plus buku tajuk subjek dan thesaurus. Sebenarnya sistem pengklasifikasian di perpustakaan tidak hanya menggunakan sistem DDC saja tapi ada juga LCC (Library of Congress Classification) dan UDC ( Universal Decimal Classification) tapi beberapa perpustakaan lebih banyak menggunakan DDC untuk mengklasifikasi.
Novel ‘The DDC Game’ karya pak Rotmianto memang menganggkat dari sistem DDC yang kemudian di jadikan sebuah tema novel action. Sebuah ide yang sangat jenius menggunakan kegiatan mengklasifikasi di perpustakaan dengan menggunakan DDC dan menggabungkannya dengan sebuah game. Mungkin ini bisa di coba walaupun sekarang sudah ada sistem E-DDC dimana mengklasifikasi secara digital tanpa harus repot-repot mencari satu-satu di 4 buku tebal. Lewat ‘The DDC Game’ Pak Rotmianto berhasil mengkampanyekan profesi pustakawan, sangat jelas dalam mengisahkan karakter Ian yang merupakan seorang pustakawan secara tidak sengaja mengklik link berpa tautan untuk bermain game, di bawa oleh rasa penasaran karena menemukan permainan game yang sesuai dengan profesi pekerjaannya Ian pun mengklik tautan tersebut sehingga permainan pun di mulai.
The DDC Game menceritakan kisah seorang pustakawan bernama Ian yang terjebak dalam sebuah permainan game bernama The DDC Game. Permainan game yang mengharuskan pemainnya untuk menjawab pertanyaan dari klasifikasi sebuah buku tertentu. Menurutku mungkin ini cara yang menyenangkan untuk belajar mengklasifikasikan buku. hehe Dalam cerita ‘The DDC Game’ Ian tidak hanya sendirian tapi juga di temani oleh Alyssa seorang mahasiswi Library and Information Science di City University of London yang juga ikut terseret dalam permainan game tersebut. Alyssa seorang pustakawan yang ketika berkenalan dengan karakter ini saya bisa bilang beginilah harusnya seorang pustakawan itu, Alyssa penggambaran profesi pustakawan yang sebenernya. Namanya saja Virtual Reality Game tentu saja apa yang di alami seperti nyata, menyenangkan sekaligus menyeramkan bukan?
Alur cerita yang begitu penuh ketegangan dan action pak Rotmianto menegaskan betapa dalam petualangan yang sedang di jalani oleh Karakter Ian, bahwa profesi pustakawan yang di geluti oleh Ian sanat berguna, dengan Ian yang berprofesi pustakawan dan di tuntut banyak membaca serta harus mengetahui banyak hal maka dengan banyaknya pengetahuan yang dimiliki memberikan manfaat bagi Ian dalam menghadapi berbagai situasi dalam petualangannya. Pak Rotmianto juga menyelipkan penggambaran yang jelas bagaimana profesi pustakawan, bahwa profesi ini tidak sepele seperti yang banyak orang pikirkan dimana tugasnya hanya lah menjaga buku, saya pikir Pak Rotmianto berhasil membuat profesi pustakawan menjadi keren.
Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam cerita ini membuat kita merasakan apa dan bagaimana perasaan Ian hanya saja kita menjadi kurang paham dengan apa yang di rasakan oleh karakter wanita si Alyssa.
Tidak hanya itu menurut saya Pak Ratmianto juga berhasil menggabungkan kegiatan klasifikasi menggunakan DDC di perpustakaan yang jujur sangat membuat pusing menjadi sebuah cerita yang seru dengan mengemasnya ke dalam bentuk kisah petualangan yang banyak sekali mengandung informasi baru tentang sejarah di dunia. Menceritakan sejarah yang sudah terjadi dengan sudut pandang yang berbeda dan menarik. Kalau bisa saya bilang ketika membaca The DDC Game kita seolah-olah seperti belajar tapi tidak terasa seperti belajar. Tentu saja belajar mengklasifikasi untuk mahasiswa ilmu perpustakaan karena di dalam buku juga banyak keterangan tentang bagaiman urutan mengklasifikasi sebuah buku dan bagi orang awam akan memberikan informasi yang cukup jelas untuk anda mengerti bagaiman proses klasifikasi itu. Oh iya tentu saja pelajaran sejarah tentang Titanic, Nabi Nuh dan kapalnya serta beberapa sejarah lainnya. Sayangnya saja tidak ada cerita sejarah yang terjadi di Indonesia hehe. Mungkin akan lebih seru jika ada sejarah kerajaan di Indonesia mungkin atau tentang Gajah Mada hehe.
“You’ll be surprise to see what I’ve learned from library”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar